Showing posts with label Literasi Digital. Show all posts
Showing posts with label Literasi Digital. Show all posts

Saturday, March 26, 2022

Pendekatan Digital Penyampaian Dhamma

Permasalahan penelitian ini adalah belum dipahaminya pendekatan digital penyampaian Dhamma pada cetiya dan vihara di Kabupaten Tangerang. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan pendekatan digital penyampaian Dhamma. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Objek penelitian ini adalah pendekatan digital penyampaian Dhamma. Ruang lingkup penelitian pada berbagai pendekatan digital yang dilakukan pembabar Dhamma dalam penyampaian Dhamma pada cetiya dan vihara di Kabupaten Tangerang.

Buddha Dharma
Pendekatan Digital Penyampaian Dhamma

Subjek penelitian terdiri dari pembabar Dhamma, yang meliputi Bhikkhu, penyuluh (Penyukuh PNS dan Penyuluh non-PNS), Pandita, penceramah Dhamma, serta pengurus cetiya dan vihara yang melakukan kegiatan menyampaian Dhamma. Wawancara pada pengurus cetiya dan vihara dilakukan untuk mendapatkan data berbagai kegiatan penyampaian Dhamma yang sudah dan akan dilakukan pada cetiya dan vihara. Analisis data penelitian menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman, yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menampilkan pendekatan digital pedagogy dan knowledge transfer. Bentuk pemanfaatan media digital yang digunakan yaitu membuat file presentasi slide Microsoft Office PowerPoint, video konferensi dengan aplikasi Zoom Meeting, pesan broadcast dengan WhatsApp group dan WhatsApp broadcast, membuat status pada aplikasi jajaring sosial Facebook dan Instagram, serta membuat Facebook dan Instagram Posts.

Penelitian Pendekatan Digital Penyampaian Dhamma

Wednesday, February 20, 2019

Etika Komputer dan Kompetensi Content Evaluation sebagai Strategi Menangkal Radikalisme Guna Meningkatkan Nasionalisme di Era Digital

Etika Komputer dan Kompetensi Content Evaluation sebagai Strategi Menangkal Radikalisme

Bagaimana etika komputer dan kompetensi content evaluation menjadi sebuah strategi menangkal radikalisme menjadi permasalahan dalam kajian ini. Tujuan kajian adalah mendeskripsikan etika komputer dan kompetensi content evaluation sebagai strategi menangkal radikalisme guna meningkatkan nasionalisme di era digital.
Pembahasan dalam kajian ini menggunakan teknis analisis Sintesis Wacana. Analisis terdiri pendahuluan, lanjutan, dan akhir, dengan mempertimbangkan unsur teks, konteks, dan wacana. Sintesis yang dilakukan merupakan kelanjutan dari proses analisis dalam upaya merekonstruksi teks dan konteks. Sintesis dilakukan dengan menggunakan perbandingan, isu-isu, dan fakta dalam rangka menjelaskan implikasi etika komputer dan kompetensi content evaluation dalam menghadapi permasalahan radikalisme di era digital. Penelitian terdahulu, kasus, dan data yang didapatkan dengan teknik Netnography menjadi unsur penting dalam memenuhi subtansi teks dan konteks.
Hasil kajian menampilkan langkah-langkah dalam menangkal radikalisme di era digital, yaitu: a) Perilaku etis penggunaan teknologi, komputer, dan media sosial; b) Formulasi dan justifikasi kebijakan penggunaan teknologi, komputer, dan media sosial; c) Pendidikan etika komputer dan literasi digital; d) Pemahaman content evaluation dalam penggunaan internet dan media sosial; e) Menganalisis latar belakang informasi yang ada di internet juga meliputi identifikasi keabsahan berita dan informasi yang direferensikan media online.

Monday, February 4, 2019

COLLEGE ACADEMIC FREEDOM IN THE DIGITAL DISRUPTION ERA

COLLEGE ACADEMIC FREEDOM IN THE DIGITAL DISRUPTION ERA

Heriyanto
Sriwijaya Buddhist State College Tangerang Banten
heriyanto@stabn-sriwijaya.ac.id

The urgency of college academic freedom is to freely seek knowledge, freely to develop knowledge, freely to express the work and to publish scientific papers, and freely to disseminate knowledge to the welfare of society by not abandoning scientific values and academic value. How does academic freedom in the digital disruption era become a separate issue in this study. This study focuses on the implementation of college academic freedom in the digital era. The results of the study are expected to provide a description and to describe the implementation academic freedom in the digital age. This research is library research, this study uses technical analysis of discourse synthesis, taking into account elements of text, context, and discourse. The synthesis is a continuation of the analysis process in an attempt to reconstruct text and context, using comparison of issues and facts in order to explain the implementation of academic freedom in the digital age. Past research, cases, and data obtained from the internet have become an important element in fulfilling the textual subtance and context of academic freedom in the digital age. The results of the study provide an overview of the implementation of college academic freedom in the era of digital disruption. Academic freedom in the era of digital disruption focuses on: 1) Adoption of digital technology in deepening, developing, and disseminating knowledge, 2) Creating new innovations in the implementation of Tridharma College, 3) Keeping scientific values, be professional, and responsible values, 4) Upholding the ethics and morality, 5) Commitment in implementing the management, regulation and policies that has been set, and 6) Creating efficiency, effectiveness, and upgrading the college services.

Keywords: Academic Freedom, Digital Disruption, College.

COLLEGE ACADEMIC FREEDOM IN THE DIGITAL DISRUPTION ERA

Wednesday, January 30, 2019

PEST Analysis Sebagai Strategi Peningkatan Pelayanan Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha

Heriyanto. 2016. PEST Analysis Sebagai Strategi Peningkatan Pelayanan Perguruan Tinggi Keagamaan Buddha. 4th INTERNATIONAL CONFERENCE ASSOCIATION OF THERAVADA BUDDHIST UNIVERSITIES (IATBU). Challenges and Opportunities. Magelang - Java Tengah. Conference Start Date: Nov 10, 2016, Conference End Date: Nov 14, 2016.


Wednesday, November 7, 2018

Kompetensi Literasi Digital

Gilster (1997: 3) membagi digital literacy competencies ke dalam empat kompetensi inti yang perlu dimiliki, yaitu: Internet Searching, Hypertextual Navigation, Content Evaluation, dan Knowledge Assembly.
  1. Internet Searching. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yakni kemampuan untuk melakukan pencarian informasi di internet dengan menggunakan search engine, serta melakukan berbagai aktivitas didalamnya.
  2. Hypertextual Navigation. Sebagai suatu keterampilan untuk membaca serta pemahaman secara dinamis terhadap lingkungan hypertext. Memahami navigasi hypertext dalam website dan browser. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yaitu: 1) Pengetahuan tentang hypertext dan hyperlink beserta cara kerjanya, 2) Pengetahuan tentang perbedaan antara membaca buku teks dengan melakukan browsing melalui internet. 3) Pengetahuan tentang cara kerja website meliputi pengetahuan tentang bandwidth, http, html, dan url, serta 4) Kemampuan memahami karakteristik halaman website.
  3. Content Evaluation. Kompetensi content evaluation mencakup beberapa komponen antara lain: 1) Kemampuan membedakan antara tampilan dengan konten informasi yakni persepsi pengguna dalam memahami tampilan suatu halaman website yang dikunjungi, 2) Kemampuan menganalisis latar belakang informasi yang ada di internet yakni kesadaran untuk menelusuri lebih jauh mengenai sumber dan pembuat informasi, 3) Kemampuan mengevaluasi suatu alamat website dengan cara memahami macam-macam domain untuk setiap lembaga ataupun negara tertentu, 4) Kemampuan menganalisis halaman website, serta 5) Pengetahuan tentang FAQ dalam suatu newsgroup/grup diskusi.
  4. Knowledge Assembly. Kompetensi ini sebagai suatu kemampuan untuk menyusun pengetahuan, membangun suatu kumpulan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, dan kemampuan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi fakta dan opini dengan baik. Hal ini dilakukan untuk kepentingan tertentu baik pendidikan maupun pelaksanaan tugas. Kompetensi ini mencakup beberapa komponen yaitu: 1) Kemampuan untuk melakukan pencarian informasi melalui internet, 2) Kemampuan untuk membuat suatu personal newsfeed atau pemberitahuan berita terbaru yang akan didapatkan dengan cara bergabung dan berlangganan berita dalam suatu newsgroup, mailing list maupun grup diskusi lainnya yang mendiskusikan atau membahas suatu topik tertentu sesuai dengan kebutuhan atau topik permasalahan tertentu, 3) Kemampuan untuk melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh, 4) Kemampuan untuk menggunakan semua jenis media untuk membuktikan kebenaran informasi, serta 5) Kemampuan untuk menyusun sumber informasi yang diperoleh di internet dengan kehidupan nyata yang tidak terhubung ddalam jaringan komunikasi internet.
digital literacy competencies
digital literacy competencies
Sumber gambar https://tecnologia.mediatelecom.com.mx/2018/09/20/la-era-digital-ha-transformado-todo-que-hasta-podemos-trabajar-en-pijama

Davis & Shaw (2011) menyatakan terdapat 6 kompetensi utama digital literacy, meliputi
 a. Pemahaman format digital dan non digital;
 b. Penciptaan dan komunikasi informasi digital;
 c. Evaluasi informasi;
 d. Penghimpunan atau perakitan pengetahuan;
 e. Literasi informasi, dan
 f. Literasi media.

Digital literacy competencies menjadi sebuah indikator dan alat ukur kemampuan seseorang hingga dapat dikatakan memiliki kemampuan digital literacy. Digital literacy competencies menjadi sebuah kemampuan, keterampilan, yang bergabung dengan pengalaman dalam menggunakan teknologi digital.

Friday, August 3, 2018

Kompetensi Literasi Media Digital Siswa SMA di Tangerang

Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Tujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Tingkat kompetensi literasi media digital dilakukan dengan memberikan kategori (tinggi, sedang, dan rendah) yang diukur menggunakan dimensi digital literacy competencies.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X berjumlah 114 orang. Objek penelitian adalah kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Kompetensi literasi media digital dispesifikan lagi pada kompetensi yang berkaitan dengan kebutuhan data akademik di sekolah. Penentuan sampel dilakukan dengan random sampling melalui area sampling. Pengumpulan data dengan teknik non tes menggunakan kuesioner. Lokasi penelitian yaitu SMA Atisa Dipamkara, SMA Perguruan Buddhi, SMA Dharma Putra, dan SMA Ehipassiko School. Kuesioner menggunakan empat klasifikasi berdasarkan skala Likert. Teknik analisis data dengan teknik statistik deskriptif menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi.

Digital Literacy Competencies
Digital Literasi Competencies
Sumber gambar: https://blog.grovo.com/free-digital-skills-training

Hasil penelitian menyatakan tingkat kompetensi literasi media digital siswa SMA kelas X pada sekolah beryayasan buddhis di Tangerang sebesar 72,39%. Sebesar 13,16% kategori tinggi, sebesar 68,42% kategori sedang, dan sebesar 18,42% kategori rendah. Untuk dimensi Internet Searching sebesar 83,42%. Sedangkan kategori tingkatan kompetensi untuk setiap responden berada pada 21,93% kategori tinggi, 64,04% kategori sedang, dan 14,04% kategori rendah. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Hypertextual Navigation sebesar 64,73%, dengan kategori tinggi sebesar 17,54%, sedang 65,79%, dan 16,67% kategori rendah. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Content Evaluation sebesar 70,87%, kategori tinggi sebesar 17,54%, sedang 65,79%, dan kategori rendah 16,67%. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Knowledge Assembly sebesar 71,43%, sebesar 20,18% kategori tinggi, 64,91% kategori sedang, dan 14,91% dalam kategori rendah.

Wednesday, April 4, 2018

Disrupsi Digital dan Disruptive Innovation

Disrupsi digital mengacu pada kecepatan dan besarnya kemajuan teknologi yang mengganggu cara-cara yang telah ditetapkan untuk mnciptakan nilai, baik dalam pemasaran, interaksi sosial, serta pemikiran, dan pemahaman individu (Patra, 2017: 1). Teknologi digital membawa keadaan disrupsi berbagai sektor masyarakat. Perkembangan teknologi mewajibkan restrukturisasi berbagai jenis business process, manajemen lembaga, organisasi, dan institusi agar sejalan dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Disrupsi digital terjadi pada berbagai aspek dan tingkatan, mulai dari individu, praktik kerja, praktik bisnis, struktur industri, dan sosial masyarakat.

Disrupsi Digital - Era Digital
Image by: Marketoonist. https://marketoonist.com/2016/03/disruptive.html
Disrupsi dalam kaitannya dengan teknologi digital, menjadikan cara, model, dan business process lama menjadi tidak lagi relevan dimasyarakat. Perkembangan masyarakat modern dengan adopsi teknologi yang cukup tinggi memaksa terciptanya berbagai inovasi manajemen dan kebijakan untuk segera menciptakan dan menjalankan langkah-langkah, model, dan business process yang inovatif dengan pendekatan yang berbeda agar mampu bertahan masa sekarang dan yang akan datang (Christensen, Clayton M. et. al., 2015: 44–53). Inovasi yang diciptakan harus mampu memudahkan dan meningkatkan pelayanan dan juga memberikan efisiensi yang tinggi. Peningkatan pelayanan dengan berbagai dukungan dan pemanfaatan teknologi, menjadikan keadaan disrupsi tidak sekadar ancaman tetapi menimbulkan peluang tanpa harus mengubah arah dan core business process.

Referensi:

-Christensen, Clayton. M, et. al., 2015. Disruptive Innovation, what is disruptive innovation?. A version of this article appeared in the December 2015 issue (pp.44–53) of Harvard Business Review.
-Nihar K. Patra. 2017. Digital Disruption And Electronic Resource Management In Libraries. United States: Chandos Publishing Is An Imprint Of Elsevier.

Monday, March 12, 2018

Literasi Media Digital Siswa SMA dan SMK di Kabupaten dan Kota Tangerang

Latar Belakang Proposal Penelitian. Penelitian dengan judul Literasi Media Digital Siswa SMA dan SMK di Kabupaten dan Kota Tangerang. 

Latar Belakang
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Teknologi informasi dan komunikasi memberikan perubahan dan menciptakan pola baru dalam memenuhi ketersediaan, mendapatkan, dan meyebarkan informasi. Teknologi digital dan internet sebagai produk teknologi menjadi pemicu terciptanya sumber-sumber informasi dan konvergensi berbagai media. Sumber, konten, dan media informasi terus bermunculan dan dengan mudah dikonsumsi oleh publik.

Kehadiran berbagai bentuk media dan jejaring sosial digital memungkinkan terjadinya akses informasi tanpa batas, kapan saja, dan di mana saja. Perkembangan komunikasi interaktif (new media) juga menjadi sebuah fenomena yang muncul dan berkembang bersama derasnya kemajuan teknologi digital dan arus informasi. Dengan tidak menghilangkan kaidah media itu sendiri, teknologi digital membawa transformasi besar-besaran pada berbagai bentuk sarana komunikasi. Surat kabar, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk telah melebur dalam teknologi digital yang membawa fungsi serta keunggulan tertentu. Berita, iklan, dan berbagai informasi lainnya dapat disebarkan (share) dan diciptakan dengan aplikasi digital, dengan dukungan teknologi internet sebagai alat komunikasi, interaksi, dan kolaborasi.

Transformasi berbagai media dalam bentuk digital membawa dampak positif dan negatif terhadap masyarakat. Keterampilan, pengetahuan, pengalaman, moralitas, dan etika pengguna media digital berpengaruh dan berdampak besar terhadap lingkungan masyarakat itu sendiri, yang tertuang dalam aspek sosial, industri, ekonomi, dan pendidikan masyarakat di era modern sekarang ini.

Permasalahan yang ada, perkembangan media digital belum diimbangi dengan kemapuan filter (menyaring) dan sharing (berbagi) informasi yang baik. Informasi hasil pencarian melalui media digital dan internet langsung saja diterima tanpa melalui analisis mendalam terhadap konten dan kebenaran informasi (https://www.antaranews.com/berita/611131/kemdikbud-kemkominfo-kerja-sama-tingkatkan-literasi-digital-masyarakat). Share konten yang belum tentu kebenarannya, berita bohong (hoax) plagiat yang semakin marak khususnya dalam dunia pendidikan, kurangnya penerapan etika berinternet, pornografi dan pornoaksi dalam media digital, serta pelanggaran terhadap hak kekayaaan intelektual menjadi fenomena besar yang ada dalam masyarakat sekarang ini.

Dalam bidang pendidikan, baik pendidikan tinggi, dasar, dan menengah, adaptasi yang baik sangat dibutuhkan dalam menyikapi perkembangan media digital dan berbagai masalah yang mengikuti. Idealnya dengan kemampuan literasi yang baik, media digital menjadi sarana interaksi, komunikasi, kolaborasi, dan sumber informasi untuk memenuhi berbagai kebutuhan informasi, khususnya informasi akademik. Digital library, sumber berita online, media pembelajaran dengan pemanfaatan internet, berbagi file melalui e-mail, sumber belajar dengan e-book, interaksi dan kolaborasi melalui media dan jejaring sosial, menulis dan berbagi informasi melalui blog, serta search engine internet yang dapat digunakan untuk mencari referensi pembelajaran merupakan kontribusi positif media digital terhadap bidang pendidikan yang tentunya dapat terjadi dengan dukungan kompetensi mumpuni pengguna teknologi itu sendiri.

Literasi kaitannya dengan media digital merupakan sebuah kompetensi individu berkaitan dengan kemampuan untuk mengakses media digital itu sendiri. Mendapatkan informasi, menganalisis konten, dan kemampuan untuk dapat membuat minformasi baru hasil interaksi dengan teknologi digital merupakan bentuk literasi media digital. Lebih mendalam, literasi media digital tertuang dalam sebuah kompetensi, yaitu kemamampuan dalam mendapatkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dengan pemanfaatan media dan teknologi digital. Kenyataan dalam dunia pendidikan, masih terdapat siswa yang belum terbiasa dengan penggunaan komputer dan internet, kesenjangan digital (digital devide) masih marak dikalangan pelajar (Hapli, Kristiyono, dkk, 2017), serta tingkat pemahaman siswa terhadap penggunaan internet dan media digital masih kurang. Permasalahan lain pada pelajar tingkat menengah, yaitu pemahaman terhadap bandwith, proses upload, proses download, virus komputer, dan pop up browser yang masih kurang.

Literasi media digital sebuah keharusan dalam dunia pendidikan. Pola pikir, pemahaman, dan karya-karya yang dihasilkan siswa harus merujuk pada cara-cara ilmiah, sistematis, dan didapatkan melalui sumber yang valid dan terpercaya. Analisis dan pemahaman kredibilitas sumber informasi yang digunakan menjadi hal penting, yang selanjutnya digunakan dalam memenuhi kebutuhan informasi akademik mereka.  Literasi media digital siswa terwujud pada pemahaman serta cara mendapatkan dan menyebarkan informasi melalui media digital. Pemanfaatan dan penggunaan internet, website, search engine, media sosial, dan jejaring sosial merupakan bentuk literasi media digital yang menjadi trend masa sekarang.

Merujuk pada pentingnya literasi media digital dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan tingkat menengah, beberapa penelitian telah dilakukan diantaranya: 1) Rezha Rosita Amalia. 2016. Urgensi literasi digital untuk Pelajar SMA: Penelitian survei tingkat literasi digital pelajar SMA Negeri di daerah Instimewa Yogyakarta, dan 2) Nuha Rosidah & Sri Herwindya Baskara Wijaya. 2016. Pengaruh Kompetensi Individu terhadap Tingkat Literasi Media Internet. Melihat berbagai bentuk perkembangan media digital berserta fenomen permasalahan yang mengikuti, Penulis tertarik melakukan penelitian berkaitan dengan profile literasi media digital siswa SMA dan SMK di Kota Tangerang. Pemilihan siswa sebagai subjek penelitian dengan melihat data penetrasi pengguna internet di Indonesia 75,5% pada kisaran usia 10-24 tahun dimana siswa SMA dan SMK termasuk dalam kategori tersebut, kemudian dengan melihat bahwa penggunaan internet 69,8% digunakan oleh pelajar (Survei APJII, 2016). Pemilihan lokasi penelitian di Tangerang didasarkan pada belum adanya penelitian di Tangerang, baik Kabupaten dan Kota yang berkaitan dengan literasi media digital siswa SMA dan SMK, diharapkan hasil penelitian memberikan kontribusi besar terhadap kebijakan, penelitian lanjutan, dan kebutuhan masyarakat terhadap data berkaitan dengan profil literasi digital siswa SMA dan SMK di Kabupaten dan Kota Tangerang. Hasil penelitian juga diharapkan menjadi sebuah data dukung terhadap berbagai program pengembangan literasi digital oleh pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan.

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Profil Literasi Media Digital Siswa SMA dan SMK di Tangerang”. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan profil literasi media digital siswa SMA dan SMK yang meliputi tingkat pemahaman literasi digital, kebutuhan akan penggunaan media digital, pemanfaatan media digital, serta cara mengakses dan menyebarkan informasi kaitannya dengan penggunaan media digital. Diharapkan hasil penelitian bermanfaat dan berkontribusi terhadap manajemen dan kebijakan sekolah, dapat digunakan sebagai masukan dan input terhadap proses pembelajaran dan kurikulum khususnya yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Hasil penelitian juga diharapkan berkontribusi terhadap aspek teknik dan praktik secara langsung dalam pembelajaran untuk lebih meningkatkan adopsi teknologi bagi siswa SMA dan SMK. Kontribusi lain, hasil penelitian menjadi sebuah data akurat dan kredibel yang didapatkan dengan cara ilmiah untuk menjadi sumber, rujukan, dan pengembangan berbagai program literasi digital baik oleh pemerintah dan lembaga pendidikan lainnya

File Presentasi Proposal Penelitian Literasi Media Digital Siswa SMA dan SMK di Kabupaten dan Kota Tangerang.

Digital Literasi, digital literacy competencies.