Sunday, October 28, 2018

Strategi Digital - Digital Strategy

Digital adalah aplikasi teknologi informasi untuk meningkatkan kinerja manusia Strategi digital berbeda dengan strategi teknologi informasi. Pertanyaan yang kerap kali muncul adalah untuk apa implementasi, pengadaan, dan pemanfaatan teknologi digital dilakukan. Banyak dari organisasi hanya terkonsentrasi pada penerapan teknologi baru pada produk, praktik, dan proses baru, tetapi dengan melupakan bahwa teknologi digital menjadi sebuah roadmap dan acuan dalam mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi.

Strategi digital adalah proses untuk memilih teknologi mana yang akan diinvestasikan dan ke mana investasi itu akan diarahkan. Pendekatan strategi digital menghasilkan suatu perencanaan dan berbagai bentuk manajemen untuk mencapai tujuan. Dengan melihat faktor internal dan eksternal perguruan tinggi khususnya perkembangan dunia digital yang mempengaruhi, strategi digital mengarah pada implementasi, pemanfaatan, dan investasi teknologi digital dalam mendukung seluruh proses, menajemen, dan untuk mencapai visi, misi, dan tujuan perguruan tinggi. Strategi digital adalah kebutuhan untuk berfokus pada kebijakan, proses yang diutamakan, dan Sumber Daya Manusia yang tepat dapat dipercaya dalam menghadapi perkembangan digital (Boag, 2013).

Berkaitan dengan perguruan tinggi, strategi digital mengubah bentuk proses, interaksi, pemasaran, dan melihat secara tajam prospek perkembangan dunia digital sebagai daya upaya dalam menghadapai perubahan harapan masyarakat dan penyesuaian terhadap peraturan dan kebijakan perguruan tinggi. Strategi digital yang hebat memberikan arahan, memungkinkan para pimpinan memimpin dengan inisiatif digital, mengukur kemajuan mereka, dan kemudian mengalihkan upaya tersebut sesuai kebutuhan (Ross, et al, 2017: 8). Langkah pertama dalam strategi digital adalah berpikir secara kritis, langkah digital apa yang harus diupayakan untuk mengatasi berbagai permasalahan dan memenangkan aspek pasar organisasi. Begitu juga dengan perguruan tinggi, menentukan strategi digital harus didahului analisis yang komprehensif, dengan melihat aspek internal dan eksternal perguruan tinggi. Undang-undang, peraturan, kebijakan, aspek keunggulan, dan kelemahan perguruan tinggi harus menjadi bahan dalam merumuskan strategi digital.

Referensi:
https://www.accenture.com/us-en/blogs/blogs-digital-what-is-digital-strategy.
Boag, Paul. 2013. So You Want To Write A Digital Strategy https://www.smashingmagazine.com/2013/07/you-want-to-write-a-digital-strategy ((diakses 19 Agustus 2018).
Ross, W, Jeanne., et al. 2017. How to Develop a Great Digital Strategy. MITSLoan Management Review, Vol. 58, No. 2 Reprint #58204.

Friday, August 3, 2018

Kompetensi Literasi Media Digital Siswa SMA di Tangerang

Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Tujuan penelitian untuk mengetahui kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Tingkat kompetensi literasi media digital dilakukan dengan memberikan kategori (tinggi, sedang, dan rendah) yang diukur menggunakan dimensi digital literacy competencies.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X berjumlah 114 orang. Objek penelitian adalah kompetensi literasi media digital siswa kelas X pada SMA beryayasan buddhis di Tangerang. Kompetensi literasi media digital dispesifikan lagi pada kompetensi yang berkaitan dengan kebutuhan data akademik di sekolah. Penentuan sampel dilakukan dengan random sampling melalui area sampling. Pengumpulan data dengan teknik non tes menggunakan kuesioner. Lokasi penelitian yaitu SMA Atisa Dipamkara, SMA Perguruan Buddhi, SMA Dharma Putra, dan SMA Ehipassiko School. Kuesioner menggunakan empat klasifikasi berdasarkan skala Likert. Teknik analisis data dengan teknik statistik deskriptif menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi.

Digital Literacy Competencies
Digital Literasi Competencies
Sumber gambar: https://blog.grovo.com/free-digital-skills-training

Hasil penelitian menyatakan tingkat kompetensi literasi media digital siswa SMA kelas X pada sekolah beryayasan buddhis di Tangerang sebesar 72,39%. Sebesar 13,16% kategori tinggi, sebesar 68,42% kategori sedang, dan sebesar 18,42% kategori rendah. Untuk dimensi Internet Searching sebesar 83,42%. Sedangkan kategori tingkatan kompetensi untuk setiap responden berada pada 21,93% kategori tinggi, 64,04% kategori sedang, dan 14,04% kategori rendah. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Hypertextual Navigation sebesar 64,73%, dengan kategori tinggi sebesar 17,54%, sedang 65,79%, dan 16,67% kategori rendah. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Content Evaluation sebesar 70,87%, kategori tinggi sebesar 17,54%, sedang 65,79%, dan kategori rendah 16,67%. Tingkat kompetensi literasi media digital siswa kelas X dilihat dari dimensi Knowledge Assembly sebesar 71,43%, sebesar 20,18% kategori tinggi, 64,91% kategori sedang, dan 14,91% dalam kategori rendah.

Wednesday, April 4, 2018

Disrupsi Digital dan Disruptive Innovation

Disrupsi digital mengacu pada kecepatan dan besarnya kemajuan teknologi yang mengganggu cara-cara yang telah ditetapkan untuk mnciptakan nilai, baik dalam pemasaran, interaksi sosial, serta pemikiran, dan pemahaman individu (Patra, 2017: 1). Teknologi digital membawa keadaan disrupsi berbagai sektor masyarakat. Perkembangan teknologi mewajibkan restrukturisasi berbagai jenis business process, manajemen lembaga, organisasi, dan institusi agar sejalan dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Disrupsi digital terjadi pada berbagai aspek dan tingkatan, mulai dari individu, praktik kerja, praktik bisnis, struktur industri, dan sosial masyarakat.

Disrupsi Digital - Era Digital
Image by: Marketoonist. https://marketoonist.com/2016/03/disruptive.html
Disrupsi dalam kaitannya dengan teknologi digital, menjadikan cara, model, dan business process lama menjadi tidak lagi relevan dimasyarakat. Perkembangan masyarakat modern dengan adopsi teknologi yang cukup tinggi memaksa terciptanya berbagai inovasi manajemen dan kebijakan untuk segera menciptakan dan menjalankan langkah-langkah, model, dan business process yang inovatif dengan pendekatan yang berbeda agar mampu bertahan masa sekarang dan yang akan datang (Christensen, Clayton M. et. al., 2015: 44–53). Inovasi yang diciptakan harus mampu memudahkan dan meningkatkan pelayanan dan juga memberikan efisiensi yang tinggi. Peningkatan pelayanan dengan berbagai dukungan dan pemanfaatan teknologi, menjadikan keadaan disrupsi tidak sekadar ancaman tetapi menimbulkan peluang tanpa harus mengubah arah dan core business process.

Referensi:

-Christensen, Clayton. M, et. al., 2015. Disruptive Innovation, what is disruptive innovation?. A version of this article appeared in the December 2015 issue (pp.44–53) of Harvard Business Review.
-Nihar K. Patra. 2017. Digital Disruption And Electronic Resource Management In Libraries. United States: Chandos Publishing Is An Imprint Of Elsevier.